Hubungan Antara Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif

Saat Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata berubah menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, banyak orang yang mempertanyakan apa hubungan antara pariwisata dan ekonomi kreatif. Penjelasannya bisa jadi panjang lebar, tetapi cara mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah dengan bertandang ke Garut, Jawa Barat. Wisata di Garut yang paling siap memang wisata belanja.

Sejarah pariwisata di Garut erat kaitannya dengan wisata alam. Garut yang dikelilingi gunung-gunung dan kawasan selatannya yang berada di pesisir pantai, memang menawarkan panorama yang indah. Masa kejayaan pariwisata Garut ada di zaman kolonial Belanda saat pemerintah Hindia Belanda mempromosikan Garut sebagai daya tarik wisata di tahun 1920-an. Kala itu, aktor kondang Charlie Chaplin pun memberi julukan Garut sebagai "Swiss van Java".

Kejayaan itu sempat surut. Walaupun turis asing terutama dari Belanda dan Jerman masih setia mendatangi Garut. Namun, beberapa tahun belakangan, turis-turis lokal makin banyak yang datang ke Garut.

Saat media massa menyambangi Garut beberapa waktu yang lalu, bus-bus besar berisi rombongan tur selalu tampak memenuhi beberapa ruas jalan. Apa pasal? Ternyata rombongan-rombongan ini sengaja datang ke Garut untuk berwisata belanja. Wisata di Garut yang paling siap memang wisata belanja,” kata Franz Limiart, penggiat pariwisata dan ekonomi kreatif di Garut, Kamis (12/4/2012).

Awalnya, beberapa perajin seperti Franz sering melakukan pameran di Jakarta. Franz sendiri memiliki usaha kerajinan akar wangi. Dulu, tutur Franz, bahkan banyak pengunjung pameran yang tidak tahu di mana Garut itu berada. Pernah pas pameran ada yang saya iseng tanya ’Tahu nggak Garut di mana?’, orangnya jawab ’Di Jawa Timur’,” tutur Franz sambil tertawa.

Menurut Franz, seiring orang-orang yang bergerak di industri kreatif Garut sering melakukan pameran di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, semakin banyak orang yang tertarik membeli langsung di Garut.

Hal senada diungkapkan pula oleh Yunus, pengusaha kerajinan kulit domba dan sapi di Garut. Yunus mengungkapkan turis lokal semakin banyak datang ke Garut sejak tiga tahun belakangan. Ia menceritakan pengalamannya saat mempromosikan kerajinan kult domba dari satu pameran ke pameran yang lainnya.

”Akhirnya mereka belanja langsung di Garut. Pertamanya pedagang yang datang untuk beli banyak,” katanya. Lama-lama, lanjut Yunus, para pedagang ini pun berpikir untuk tidak sekadar belanja saja. Yunus pun menjadi rajin mempromosikan obyek-obyek wisata di Garut seperti Candi Cangkuang dan pemandian air panas di seputar Cipanas.

“Mereka jadi datang buat wisata juga. Abis belaja, terus keliling Garut. Nantinya, mereka datang lagi bawa keluarga. Lalu cerita ke teman-teman mereka,” jelas Yunus. Sisanya pun tinggal sejarah. Dari mulut ke mulut, pariwisata di Garut pun mulai terangkat di kalangan turis domestik. Yunus pun kerap menerima tamu yang datang ke toko miliknya hanya karena berdasarkan rekomendasi dari teman.

“Saya, Yunus, dan teman-teman yang punya usaha jadi terbiasa untuk menanyakan tujuan selanjutnya tamu. Biasanya saya tanya ‘Habis ini mau ke mana?’. Kalau tamu belum tahu mau ke mana lagi, saya rekomendasikan ke tempat-tempat belanja atau obyek wisata,” jelas Franz.

Wisata belanja di Garut bisa dibilang memberikan kontribusi ekonomi langsung pada masyarakat Garut. Sasarannya tentu saja wisatawan nusantara. Apalagi, data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan pola pengeluaran wisatawan nusantara (wisnus) di tahun 2008 mencapai 5,1 persen untuk pengeluaran suvenir dari total pengeluaran wisnus sebesar Rp 123,2 triliun.

Sedangkan di tahun 2009, terjadi peningkatan untuk pengeluaran suvenir yaitu sebesar 6,03 persen dari total pengeluaran wisnus yang mencapai Rp 138 triliun. Di tahun 2009, angka 6,03 persen ini menduduki peringkat keempat pengeluaran terbesar setelah pengeluaran wisnus untuk angkutan domestik, produk industri non makanan, restoran dan sejenisnya, serta hotel dan akomodasi. Hal ini menunjukkan wisatawan asal Indonesia pada dasarnya gemar berwisata belanja.

Harga kompetitif dengan kualitas bagus, menjadi daya tarik wisata belanja di Garut. Di Garut, Anda bisa menemukan kerajinan akar wangi berkualitas terbaik. Sebab, akar wangi terbaik di Indonesia berasal dari Garut.

Lalu, jaket yang terbuat dari kulit domba menghasilkan tekstur bahan yang lembut dan halus. Sampai batik warna-warni motif Garut yang menawan. Belum lagi, dodol Garut yang sudah terkenal seantero Indonesia.

Satu hal yang pasti, siapkan dompet Anda sebelum mampir ke Garut. Bertandang di Garut maka tak afdal jika tak berbelanja. Puas berbelanja, jangan lupa mengunjungi obyek wisata alam maupun daya tarik budaya yang ada di Garut. Mau tahu tempat-tempat belanja di Garut?

Anda sedang membaca artikel Hubungan Antara Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif dan artikel ini url permalinknya adalah http://palembang-blogger.blogspot.com/2012/04/hubungan-antara-pariwisata-dan-ekonomi.html
Semoga artikel Hubungan Antara Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif ini bisa bermanfaat.

Related Posts

2 Response to "Hubungan Antara Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif"

obyektif-magazine Says:

Memang Dunia Pariwisata dengan Industri Kreatif, sangat erat hubungannya. Bisa menjadi sumber dana yang berkesinambungan. Trims infomasinya Gan. Selamat dan sukses selalu untuk Anda.

Salam kompak:
Obyektif Cyber Magazine
(obyektif.com)

franz limiart j Says:

terima kasih atas tulisannya yang menjadikan Garut sebagai salah satu referensi. Memang Garut sebelum tahun 2000 masih merupakan daerah yang dianggap "gelap" dari peta Indonesia. baru setelah kami menekuni kerajinan dan pariwisata Garut mulai terangkat. Diperlukan sebuah pengorbanan dalam mengangkat citra sebuah tempat, tetapi bila dilakukan dengan sunggu dan tulus maka hasilnya seperti yang kami rasakan di Garut.
Untuk membuktikan bhw Garut kini sudah berkembang menjadi daerah tujuan wisata tanpa campur tangan pemerintah kami mengundang anda semua mampir dan berwisata di Garut, kami memiliki 8 kawah gn berapi pada radius tidak lebih dari 35km garis lurus, 2 buah situ, belasan gunung, beberapa air terjun, 85 km garis pantai selatan nan eksotis, fasilitas hotel & resto yg unik, kuliner lokal yang sangat khas, produk ekonomi kreatif yang unik sampai ke wisata petualangan Garut menyediakannya untuk anda. Yang tidak ada di Garut adalah Mall krn tidak diperlukan.
Sekali lagi Kami tunggu kedatangan anda di Garut, Parahyangan yang Sebenarnya.

Franz Limiart PJ
otakkgarut@yahoo.co.id

Poskan Komentar