Panja Mafia Pemilu

Panja Mafia Pemilu meminta keterangan sejumlah staf Mahkamah Konstitusi di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (30/06/2011). Mereka yang datang memenuhi panggilan adalah mantan panitera MK, Zainal Arifin, panitera pengganti Nalom Kurniawan, Sekretaris Panitera Alifah Rahmawaty, dan staf Muhammad Faiz. Juru panggil MK, Masyhuri Hasan, yang merupakan saksi kunci dalam kasus dugaan surat palsu tidak datang.

Sebelumnya, MK telah meminta keterangan mantan hakim konstitusi Arsyad Sanusi dan putrinya Neshawati Zulkarnain, Selasa (28/06/2011). Keduanya disebut-sebut terlibat dalam dugaan surat palsu MK terkait sengketa Pemilu 2009 di Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan I. Sebelumnya pula, Kamis (23/6/2011), Tim Investigasi Mahkamah Konstitusi menyampaikan hasil investigasinya kepada Panja.

Arsyad dan Nesha membantah laporan tim investigasi MK dan pernyataan para staf MK. Bolehlah dibilang, bapak dan anak itu kini tengah berseteru dengan kubu internal MK. Mari kita tilik fakta-fakta yang dibeberkan di hadapan panja.

Hasil investigasi tim MK dibacakan Sekretaris Jenderal MK Janedjri M Gaffar. Janedjri membeberkan pembuatan konsep surat jawaban putusan MK palsu untuk Dewi Yasin Limpo. Menurutnya, dalam pemalsuan surat untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu, terlibat nama Arsyad dan putrinya, Nesha, beserta politikus Partai Hanura, Dewi Yasin Limpo. Mereka menggunakan jasa Masyhuri Hasan untuk membuat konsep surat yang memberikan tambahan kata "penambahan suara".

Diberitakan, Neshawati pernah menelpon Hasan dan memintanya pergi ke Apartemen Pejabat Tinggi di Kemayoran menemui Arsyad. Nesha membantah laporan tim investigasi. Ia mengaku tidak mengenal dekat Hasan, apalagi menelepon Hasan seperti yang dituturkan tim investigasi MK. Ia mengaku mengenal dan bertemu Hasan hanya sekali, yaitu di ITC Cempaka Mas saat dikenalkan keponakannya, Rara. Hasan, diakui Rara, sebagai pacarnya.

"Saya hanya sekali bertemu Hasan. Waktu itu saya sama Rara ke ITC Cempaka Mas. Waktu itu janjian perbaiki BB. Enggak lama kemudian Hasan datang, enggak tahu janjian atau apa. Cuma dikenalin, Hasan. Hanya sekali itu. Saya enggak pernah ketemu di rumah (Arsyad) maupun telepon Hasan," ujar Nesha kepada panja.

Ia pun tidak setuju dikatakan mengatur pertemuan antara ayahnya, Dewi Yasin Limpo, dan Hasan pada 16 Agustus 2009. Apalagi, ia baru mengenal Hasan sekali bersama Rara sebelum kejadian itu. Nesha juga mengaku kenal Dewi Yasin Limpo karena sama-sama dari Makassar. Namun, ia tak begitu kenal dekat dengan Dewi. "Saya sudah berangkat ke Surabaya pada 15 Agustus 2009. Saya sama sekali tidak menelepon Hasan," katanya.

Senada dengan putrinya, Arsyad turut membantah laporan tim investigasi yang menyatakan dirinya mengenal dekat Hasan. Arsyad mengaku hanya mengetahui Hasan sebagai staf di MK. Menurut Arsyad, Hasan memang datang ke rumahnya. Tetapi, ia sama sekali tak mengundang Hasan. Tuturnya, Hasan datang untuk menemui Rara, itu pun ia ketahui dari istrinya.

"Hasan tidak pernah masuk di ruangan saya (ruangan di MK). Saya juga tidak pernah mengundang Hasan ke rumah saya. Waktu itu dia datang, istri saya yang bilang dia (Hasan) mau (menyukai) sama Rara," tutur Arsyad.

Saat itu, menurut cerita Arsyad, ia dan Hasan berada dalam ruang televisi. Hasan yang kemudian memulai pembicaraan menanyakan bagaimana membuat jawaban surat putusan MK yang diminta KPU. Namun, dalih Arsyad, dirinya langsung mencurigai Hasan saat menanyakan hal tersebut. Meskipun ia akui, ia sudah sering menjawab kepada siapa pun yang menanyakan penulisan sebuah surat putusan MK. Tetapi, menurutnya, Hasan tidak menempati posisi strategis di MK yang memiliki kewenangan untuk membuat jawaban surat KPU. Posisi Hasan hanya juru panggil di MK. Seharusnya yang berwenang membuat konsep surat adalah panitera MK.

"Dia (Hasan) bawa laptop, dia bilang, 'Om ini saya disuruh untuk membuat konsep jawaban atas pertanyaan KPU'. Saya sudah timbul kecurigaan, saya tanya 'Kenapa kamu yang buat surat jawabannya, bukan panitera?'. Dia (Hasan) menjawab, 'saya disuruh'," tutur Arsyad.

"Saya langsung peringatkan, kamu jangan coba-coba menambah atau mengubah isi amar putusan (MK)," sambung Arsyad.

Arsyad membantah pernyataan tim investigasi MK yang menyatakan bahwa saat itu Hasan menunjukkan konsep surat putusan MK kepadanya. Menurutnya, Hasan hanya sekadar bertanya, dan tak lebih dari itu. Ia menegaskan, tak mungkin ia menyuruh Hasan membuat surat jawaban putusan MK yang tidak sesuai dengan amar putusan di sidang. Ia pun mengatakan bahwa saat itu memang di rumahnya juga ada Dewi Yasin Limpo. Namun, Dewi yang telah dianggapnya sebagai keluarga tak ikut dalam pembicaraan Arsyad dan Hasan.

"Itu benar, Dewi Yasin datang, tapi dia tidak berbaur, tidak nimbrung untuk bicara ini. Dia datang tidak ada niat menggoda-goda saya untuk mengubah jawaban MK ini. Hina saya kalau saya ikut-ikutan buat surat palsu itu" tegasnya.

Selain itu, Arsyad juga membeberkan mengenai Zainal Arifin yang saat itu menjadi panitera MK. Menurutnya, Zainal pernah mengejarnya di lobi MK dan menanyakan surat jawaban putusan untuk Dewi Yasin Limpo. Tetapi, Arsyad tak mengingat tanggal pada hari itu. Ia pun menolak dikatakan menelepon Zainal. Ia merasa tak pernah menghubungi Zainal, justru Zainal yang mengejarnya saat itu.

"Zainal Arifin kejar saya di MK dan menanyakan ke saya, 'Pak Arsyad ini putusan Dewi Yasin Limpo diapakan?' Saya jawab, ini kewenangan Anda (Zainal Arifin). Tapi, isi putusan jangan coba-coba Saudara mengubah titik koma saja, itu menjual MK," tukas Arsyad.

Pengakuan staf MK

Cerita versi Arsyad dan Neshawati berbeda dengan versi para staf MK. Muhammad Faiz, staf MK yang ditugaskan Zainal untuk mengetik nota dinas (surat pengantar) surat putusan MK saat itu sempat mendengar juru panggil MK, Masyhuri Hasan, menyebut nama Arsyad yang meminta menambahkan kata "penambahan suara".

"Terjadi perdebatan antara saya dan Hasan. Hasan mengatakan ada penambahan kata 'penambahan suara'. Tapi, saya tidak langsung menjawab, saya harus lihat amar putusan. Di amar putusan, sudah jelas. Tapi, kenapa dia (Hasan) bisa tanya seperti itu, saya sempat berpikir egois, dia kan hanya seorang juru panggil. Saya menjelaskan kepada Hasan bahwa jika ada 'penambahan suara' berarti sudah jelas akan ada penggelembungan suara. Setelah itu saya mendengar keluhan dia, katanya ini maunya Pak Arsyad. Saat dia (Hasan) mengatakan itu, ia semacam terdesak," tutur Faiz di hadapan Panja Mafia Pemilu, Kamis (30/06/2011).

Nama Arsyad bukan hanya sekali disebutkan. Zainal juga mengatakan pernah ditelepon Arsyad pada Minggu, 16 Agustus 2009, sebanyak dua kali. "Pertama hari Minggu 16 Agustus 2009 sekitar jam 12 saya ditelepon Arsyad. Ia menanyakan 'Apakah pada putusan MK Nomor 084 tentang Dapil Sulawesi Selatan 1 apa penambahan suara?' Saya jawab tidak, karena putusan itu menetapkan jumlah perolehan suara. Suara yang benar menurut MK. Itu saya sampaikan," ujar Zainal.

"Tidak lama, jam 3-an, ada telrpon lagi dari Pak Arsyad yang menyampaikan bahwa yang bersangkutan (Dewi Yasin Limpo) mau bertemu saya. Saya jawab tidak usah. Kalau mau bertemu, di kantor saja. Dalam hati, saya mengatakan itu melanggar kode etik karena Ibu Dewi Yasin Limpo sedang beperkara, kami tidak bisa bertemu seperti itu. Jadi saya menolak," tutur Zainal.

Sekalipun ditolak, toh Dewi Yasin Limpo tetap menemui Zainal di rumahnya di Bekasi pada 16 Agustus 2009 pukul 20.00. Dewi meminta tolong kepadanya untuk membantu kasusnya yang tidak mendapatkan kursi.

"Dia menyatakan ada masalah. Saya katakan, 'Bu, kalau persoalan Ibu, selesaikan di kantor. Kata Dewi, 'Saya itu sudah menang, tapi saya tidak dapat kursi putaran dua.' Saya (Zainal) menjawab, 'Itu bukan urusan saya, tapi KPU. Menerima ibu pun saya tidak boleh'," ujar Zainal meniru percakapan mereka. Ia mengatakan tak ada iming-iming ataupun janji tertentu pada pertemuannya dengan Dewi.

Anggota panja kemudian menanyakan pertemuan Zainal dengan Arsyad di lobi. Zainal membantah mengejar Arsyad, apalagi menanyakan Dewi Yasin. "Saya tidak pernah ada pembahasan soal itu (kasus Dewi Yasin Limpo) dengan Pak Arsyad. Kami bertemu di lobi kalau lewat, tapi tidak pernah membahas itu," ujarnya.

Selain Zainal, Nalom pun turut buka suara mengenai Arsyad sebelum sidang permohonan Partai Hanura dilakukan. Menurutnya, Arsyad yang juga hakim dalam panel itu memintanya menggunakan tabel atau matriks rekapitulasi perolehan suara versi Arsyad. Tabel itu nantinya harus dicantumkan dalam persidangan. Namun, ia mengaku tak mengerti alasan Arsyad meminta rekap tersebut. Padahal, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD tidak memerintahkannya melakukan hal itu. Mahfud hanya memerintahkan untuk menghitung ulang perolehan suara.

"Saya diberikan Pak Arsyad tabel untuk dapil I. Dia perintahkan saya dan mengatakan 'Ya buat saja, dibawa tabel ini'. Tapi, itu saya abaikan. Padahal, Ketua (Mahfud MD) minta C 1 untuk hitung ulang, jadi saya mengabaikan Pak Arsyad," ujar Nalom di hadapan panja, Kamis. Namun, Nalom tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana tindakan Arsyad setelah permintaannya tidak dilakukan oleh Nalom.

Neshwati versi Nalom

Tim investigasi MK pernah menuturkan, Neshawati secara tidak langsung melakukan intervensi kepada panitera MK, Nalom Kurniawan. Ia mendesak Nalom melalui pembicaraan telepon seluler milik Dewi Yasin Limpo. Nesha meminta agar Nalom memberikan surat asli jawaban putusan MK kepada Dewi yang meminta surat tersebut. Pernyataan ini ditolak mentah-mentah oleh Nesha. Ia menyatakan tidak mengenal Nalom dan tak pernah berbicara dengan Nalom.

"Tidak benar saya menelepon (Dewi Yasin Limpo). Saya tidak kenal Nalom dan tidak pernah meneleponnya," ujar Nesha.

Ucapan Nesha dibantah Nalom pada pertemuan dengan panja, Kamis kemarin. Saat itu, menurut penuturan Nalom kepada panja, ia menemani Masyhuri Hasan untuk mengantarkan surat asli jawaban putusan MK yang sudah selesai ditandatangani oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Bersama Hasan ia mendatangi KPU untuk mengantarkan surat itu. Tanpa diduga di parkiran KPU telah ada Dewi Yasin Limpo dan seorang pria bernama Bambang.

"Setelah sampai KPU, komisioner KPU enggak ada [baca: Berbohongkah Andi Nurpati? (1)]. Kami menunggu di mobil dan Hasan minta arahan Pak Panitera (Zainal Arifin). Tidak lama setelah komunikasi arahan panitera terputus, tampak dua orang Dewi Yasin Limpo dan Bambang," ujar Nalom. Ia menyatakan, Dewi berusaha membujuk keduanya untuk melihat surat yang harusnya diberikan kepada KPU.

"Singkat cerita Ibu Dewi meminta kami tidak menyampaikan kepada komisioner (KPU). Saya mengatakan tidak bisa. Bu Dewi memaksa minta ditunjukkan surat itu. Lalu saya keberatan dan bilang, 'Bagaimana Mas Hasan?' Lalu, Bu Dewi menelpon seseorang. Tidak lama berbicaranya via telepon dengan bahasa yang saya tidak tahu (bahasa daerah). Telepon diberikan kepada saya, (ternyata) dari Nesha. Seingat saya Nesha bilang, 'Tolong pahami Ibu Dewi, dia berjuang sudah lama'," ujar Nalom. Demikian catatan online Blogger Palembang yang berjudul Panja Mafia Pemilu.

0 Response to "Panja Mafia Pemilu"

Posting Komentar